MUI Bolehkan Vaksin AstraZeneca Mengandung Babi Dipakai, Politisi PDIP: Ayo Kita Sukseskan dan Gelorakan


  

JAKARTA-– Anggota Komisi IX DPR RI Ahmad Handoyo mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk mensukseskan program vaksinasi vaksin AstraZeneca meski mengandung babi.


Menurutnya, vaksin AstraZeneca sudah aman digunakan dan diperbolehkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena dalam keadaan darurat untuk menanggulangi wabah Covid-19.

Demikian disampaikan Politisi PDI-Perjuangan itu saat dihubungi Pojoksatu.id melaui sambungan telepon di Jakarta, Sabtu (20/3/2021).

“Saya mengimbau kepada semua pihak karena MUI sudah mengeluarkan fatwanya. Ayo kita sukseskan, gelorakan vaksinasi secara nasional,” jelasnya.

“Dalam pemakaian sebagai obat sekaligus untuk jadi pelindung kesehatan dalam rangka memerangi Covid-19,” lanjut Ahmad.

Anak buah Megawati itu menyakini Indonesia akan lebih mudah menanggulangi virus asal Kota Wuhan itu jika vaksinasi vaksin AstraZeneca berjalan dengan sukses.

“Saya percaya vaksinasi berjalan dengan sukses. Kemudian berjalan sesuai harapan kita, maka herd immunty akan terbentuk,” ujarnya.

“Sehingga terhindar dari potensi terpapar Covid-19 yang lebih serius,” sambung Ahmad.

Kendati demikian, Ahmad juga mengimbau kepada semua pihak untuk tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Sebagaimana yang dianjurkan pemerintah dan satgas Covid-19.

“Saya memohon dan mengimbau meski kita sukses menjalankan vaksinasi kita tetap menjalankan protokol kesehatan susuai anjuaran pemerintah,” pungkasnya.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan, vaksin Covid-19 AstraZeneca yang diproduksi oleh SK Bioscience di Kota Andong, Korea Selatan boleh digunakan.

Vaksin yang mengandung tripsin yang berasal dari babi itu boleh digunakan kerena alasan dalam keadaan darurat.

“Vaksin AstraZeneca mengandung tripsin (ada kandungan babi) dalam proses pembuatannya,” kata Ketua Bidang Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh dalam jumpa pers virtual, Jumat (19/3).

Asrorun menjelaskan, dengan ini berarti fatwa MUI menyatakan vaksin AstraZeneca haram.

Fatwa No 14 tahun 2021, tanggal 17 Maret fatwa tersebut diserahkan ke pemerintah. Hari ini dijelaskan ke publik, fatwa terkait AstraZeneca dinyatakan haram tapi masih boleh digunakan.

“Tapi boleh digunakan dengan sejumlah syarat,” tutur Niam.

Asrorun menjelaskan, ada 5 pertimbangan vaksin AstraZeneca tetap boleh digunakan meskipun haram, berikut daftarnya:

Kondisi kebutuhan yang mendesak atau hajjah asyariah dalam konteks fiqh yang menduduki kedudukan darurat syari atau darurat syariah.

Ada keterangan dari ahli yang kompeten dan terpeceya tentang bahaya atau risiko fatal jika tidak segera dilakukan vaksinasi Covid-19.

Ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 guna ikhtiar mewujudkan herd immunity.

Ada jaminan keamanan penggunaannya oleh pemerintah sesuai penjelasan saat komisi fatwa melakukan kajian.

Pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin COVID-19 mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia baik di Indonesia dan tingkat global. pjksatu

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Iklan Bawah Artikel

Iklan Tengah Artikel 1