Usai rugi 11 triliun, Pertamina laba 7 triliun dalam sebulan kok bisa?

Usai rugi 11 triliun, Pertamina laba 7 triliun dalam sebulan kok bisa?



Kinerja PT Pertamina (Persero) kini membaik. Setelah Semeter I 2020, Pertamina rugi Rp11 triliun, hanya dalam tempo sebulan Pertamina laba 7 triliun. Lha kok bisa sih?

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengungkapkan kinerja perseroan membaik mulai Semeter II ini dan perusahaan yakin bakal mencetak terus positif trennya sampai akhir tahun.

Fajriyah menjelaskan Pertamina bisa membalikkan keadaan dari Pertamina rugi menjadi laba pada bulan pertama semester II ini lantaran seiring pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru dan pergerakan perekonomian nasonional, serta tren penjualan pertamina mulai menaik.

Pertamina laba 7 triliun

Booth Pertamina Hulu. Foto Instagram @rajabackdrop

Fajriyah mengatakan masuk semester II-2020, kinerja operasional holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) minyak dan gas secara keseluruhan menunjukkan tren positif.

Dia mengungkapkan laba bersih yang diraih Pertamina pada awal Semester II ini yakni US$480 juta atau setara Rp7 triliun.

“Maka kerugian kumulatif sampai dengan Juli dapat ditekan dan berkurang menjadi US$360 juta atau setara Rp5,3 triliun,” kata dia sebagaimana diberitakan Trenasia, dikutip Jumat 28 Agustus 2020.

Dari rugi jadi laba



Mobil tangki bahan bakar Pertamina

Mobil bahan bakar tangki pertamina Foto: Pertamina

Dia menjelaskan, sepanjang periode Januari-Juni 2020, Pertamina rugi bersih US$767,92 juta setara Rp11 triliun. Sedangkan, hanya Juli 2020, Pertamina berhasil meraup laba US$480 juta setara Rp7 triliun. Sehingga, kumulatif kerugian kini tersisa US$360 juta.

Pada Juli 2020, Pertamina mencatat volume penjualan seluruh produk sebesar 6,9 juta Kilo Liter (KL) atau meningkat 5% dibandingkan dengan Juni 2020 yang 6,6 juta KL.

Sementara, dari sisi nilai penjualan, pada Juli berada di kisaran US$3,2 miliar atau terjadi kenaikan sebesar 9% dari bulan sebelumnya yang mencapai US$2,9 miliar.

“Salah satu shock yang dialami pada masa pandemi COVID-19 adalah penurunan permintaan bahan bakar minyak (BBM)” ujarnya mengungkap salah satu penyebab rugi semester I 2020.

Dampak pandemi



SPBU Pertamina. Foto: Satria Negara via Flickr

Fajriyah menjelaskan pada periode Februari hingga Mei 2020 adalah masa terberat Pertamina dengan volume demand yang terus mengalami penurunan tajam akibat pandemi Covid-19.

Saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penurunan demand di kota-kota besar mencapai lebih dari 50%.

Selian itu beban Pertamina ditambah dengan penurunan pendapatan di sektor hulu sehingga total pendapatan Pertamina, yang tercantum dalam laporan keuangan unaudited Juni 2020, merosot hingga 20%.

Fajriyah mengatakan, dengan penurunan pendapatan yang signifikan, maka laba juga turut tertekan. Pada pada Januari 2020, Pertamina masih membukukan laba bersih positif US$87 juta. Namun memasuki tiga bulan selanjutnya, mulai mengalami kerugian bersih rata-rata US$500 juta per bulan.

Untuk mengatasi kondisi ini, ujar Fajriyah, manajemen Pertamina telah berhasil menjalankan strategi dari berbagai aspek baik operasional maupun finansial. Sehingga, laba bersih pun beranjak naik sejak Mei sampai Juli 2020 dengan rata-rata sebesar US$350 juta setiap bulannya. Pencapaian positif ini akan terus mengurangi kerugian yang sebelumnya telah tercatat.

“Dengan memperhatikan tren yang ada, kami optimistis kinerja akan terus membaik sampai akhir tahun 2020,” katanya. Sumber Berita / Artikel Asli : Hops

0 Response to "Usai rugi 11 triliun, Pertamina laba 7 triliun dalam sebulan kok bisa?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel