Aneh, Jokowi Bebaskan Lima Kombatan OPM, tapi Mahasiswa Papua Dipenjara

Aneh, Jokowi Bebaskan Lima Kombatan OPM, tapi Mahasiswa Papua Dipenjara


Media-umat, JAKARTA – Politisi Partai Demokrat Rachland Nashidik mengkritisi pemerintahan Jokowi yang dianggapnya tidak konsisten terkait Papua.

Menurut Rachland, pada tahun 2015 pemerintah Jokowi memberikan grasi dan membebaskan lima kombatan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Belakangan, Jokowi justru membiarkan para mahasiswa Papua didakwa melakukan gerakan separatis hanya karena melakukan aksi menentang rasisme.

“Presiden Jokowi pada 2015 memberi grasi dan membebaskan lima kombatan OPM pelaku serangan ke gudang senjata di markas Kodim Wamena pada 2003,” kata Rachland melalui akun Twitter-nya, Senin (8/6/2020).

“2020: Kenapa Jokowi biarkan mahasiswa Papua didakwa separatis dan dibui belasan tahun hanya karena aksi protes damai menentang rasisme?,” tambah Rachland.

Rachland membandingkan cara Jokowi memperlakukan tahanan politik Papua dengan cara presiden sebelumnya.

Menurut Rachland, tahanan politik (tapol) atau “prisoner of conscience” adalah warga yang terancam dibui belasan tahun karena perbedaan pandangan dengan pemerintah.

“Presiden Habibie pada 1998 membebaskan tapol dan mengakhiri praktek represi berusia puluhan tahun itu. Siapa sangka kini di era Jokowi dimulai lagi,” kata Rachland.

“Habibie akhiri Daerah Operasi Militer di Papua. Gus Dur, dalam pencarian solusi damai, ijinkan pengibaran bendera Bintang Kejora. Setelah Megawati berkuasa, 2001, Theys Eluai dibunuh. Solusi damai kembali di era SBY. Di era Jokowi? Operasi militer kembali diberlakukan di Papua,” tandas Rachland. (one/pojoksatu)

0 Response to "Aneh, Jokowi Bebaskan Lima Kombatan OPM, tapi Mahasiswa Papua Dipenjara"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...