China Mulai ngajak Ribut di Natuna

China Mulai ngajak Ribut di Natuna




Mediaumat -  Terbukti. Ambisi teritorial RRC komunis terencana dengan rapi. Mereka tak akan berhenti di Kepulauan Spratly yang berposisi lebih dekat ke Filipina. China mulai mengganggu Kepulauan Natuna milik Indonesia. Mulai ajak ribut Indonesia.

Pada tanggal 10 Desember 2019, kapal penjaga pantai (coast guard) RRC muncul di perbatasan laut di perairan bagian utara Natuna. Kapal itu dihadang oleh kapal Badan Keamanan Laut (Bakamla) Indonesia. Kapal China itu dihalau, tak jadi menerobos ke dalam perairan Indonesia.

Pada 23 Desember 2019, dua kapal penjaga pantai RRC masuk lagi. Kali ini, kedua kapal bersenjata itu mengawal sejumlah kapal penangkap ikan China yang sedang melakukan pencurian ikan di perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) di utara Natuna. ZEEI itu diakui oleh PBB.

China unjuk kekuatan dalam insiden kedua ini. Dua kapal penjaga pantai yang bersenjata itu dibeking oleh satu kapal frigat (kapal perang) dari kejauhan. Ini artinya, angkatan laut China siap melakukan tindak kekerasan.

Kapal Bakamla KM Tanjung Datuk 301 mencoba mengusir kapal-kapal China itu. Mereka menolak dengan alasan bahwa mereka berada di wilayah laut RRC. Pejabat senior Bakamla, Nursyawal Embun, mengatakan pihak China pasti tahu bahwa mereka berada di ZEEI. Sebab, cukup jauh jaraknya dari wilayah laut yang dikuasai RRC.

Pada 30 Desember 2019, Kemenlu melancarkan protes ke China. Tapi, hari berikutnya, 31 Desember 2019, kapal-kapal China masuk lagi ke perairan utara Natuna. Kemenlu memanggil Dubes China di Jakarta. Protes keras disampaikan.

Sekarang, Anda mendapatkan gambaran tentang RRC yang mulai cari pasal di Kepulauan Natuna. Anda juga mendapatkan gambaran tentang kesiapan mereka untuk melancarkan tindakan militer.

Modus ekspansi laut China sangat jelas. Mereka kirim dulu kapal-kapal nelayan ke perairan Natuna. Kapal perang mereka melakukan pengawalan. Ini membuat Bakamla akan berhati-hati bertindak tegas. Sebab, di belakang kapal-kapal nelayan itu ada kapal perang RRC yang stand-by.

Bakamla tentu bisa meminta bantuan ALRI. Tapi, kekuatan AL China pastilah jauh lebih besar dan lebih tangguh. Dan, kalau sampai kapal perang Indonesia terpancing menggunakan kekerasan, itu akan dijadikan alasan oleh China untuk mengerahkan armada AL mereka lebih banyak lagi ke perairan ZEEI.

Setelah banyak kapal perang RRC berada di ZEEI, tentu akan muncul pertikaian verbal. China tak akan menghiraukan argumentasi verbal. Mereka tak akan pergi dari ZEEI. Kekuatan AL-nya malah akan ditambah. Dalam sejarah pertikaian ZEE di wilayah lain, penyelesaiannya tidak mudah. Setelah persoalan semakin ruwet, RRC memiliki kemampuan diplomasi untuk menghimpun dukungan internasional. Di lain pihak, mereka juga kuat dalam pengerahan militer. Apalagi belakangan ini persaingan militer di Laut China Selatan boleh dikatakan menjadi dominasi RRC. Amerika Serikat (AS) tidak lagi diperhitungkan. Perlu diingat bahwa RRC adalah kekuatan militer kedua di dunia setelah AS.

China akan siap terlibat pertikaian panjang di perairan utara Natuna. Mereka akan melakukan penguasaa de-facto. Protes verbal tak akan berguna. Mau protes militer, kita tak sanggup. Pertiakan panjang akan memberikan uluran waktu bagi RRC untuk membangun pangkalan angkatan luat di wilayah itu.

Setelah itu, level berikutnya adalah pencaplokan pulau-pulau kecil terluar di Kepulauan Natuna. Terutama yang tidak berpenghuni. Bahkan, pulau-pulau yang berpenghuni pun bisa dibuat “tak berpenghuni” oleh China. Harap diingat, letak geografis Natuna (bagian dari Provinsi Kepulauan Riau) cukup jauh dari bagian Indonesia lainnya. Ini membuat tindakan logistik sipil dan logistik militer menjadi berat.

Dengan kekuatan militer yang dimilikinya, RRC sudah sejak lama memancing keributan. Mereka mengklaim kedaulatan atas perairan Kepulauan Spratly beserta pulau-pulaunya. China bertikai dengan Filipina, Malaysia, Vietnam, Brunei dan Taiwan.

China memang belum mencaplok satu pun pulau di Kepulauan Spratly. Tetapi, sejak 2013 mereka melakukan tatik membuat pulau di dalam perairan kepulauan ini. Dari sini bisa dilihat tujuan jangka panjang China di Spratly. Sebab, kalau pulau-pulau buatan ini menjadi milik China, tentu akan diikuti dengan klaim perairan untuk pulau baru itu. Masyarakat internasional mengecam. Tapi China tutup kuping dan mata. Tidak akan ada satu negara pun, termasuk AS, yang bisa menghancurkan kembali pulau buatan tsb.

Modus membuat pulau di Spatly ini harus diwaspadai. China akan menunggu peluang untuk melakukan hal yang sama di perairan Natuna. Kalau mereka sampai bisa membangun pulau di wilayah ZEEI di bagian utara Natuna, persoalan bisa sangat rumit.

Dengan segala kondisi Indonesia yang ada saat ini, boleh jadi pembangunan pulau oleh China tidak terdeteksi. Kalau pun terdeteksi, Indonesia tak akan mampu mencegahnya. Paling-paling hanya nota protes. RRC tidak akan ambil pusing.

Dalam jangka panjang, kekuatan militer China akan makin dahsyat. Pasti. Indonesia hanya seperti sekeping kerupuk yang tercecer di lintasan tank-tank China. Mungkin, itulah sebabnya RRC merasa sudah saatnya cari pasal di Natuna.
Oleh: Asyari Usman
[plt]

9 Responses to "China Mulai ngajak Ribut di Natuna"

  1. Sekalipun semut akan berhadapan dgn gajah tentu tak dibenarkan menyerahkan keadaan begitu saja tanpa melakukan upaya strategis bangsa.
    Mungkin ini teguran bhw sudah saatnya Indonesia berubah cara pandang kedaulatannya, yakni bukan dgn memprioritas habis2 dan pembangunannya pada infrastruktur melulu.. sdh harus saat sekarang manuver untuk pengembangan militerisasi dan pertahanan secara besar2 an dan massive.

    BalasHapus
  2. percuma bangun infrastruktur besar²an kalo pada akhirnya yg memanfaatkan adalh penjajah

    BalasHapus
  3. Ya Allah lindungilah Indonesia ku...

    BalasHapus
  4. Sebaiknya ,tetap upayakan dulu jalan damai..kalau tidak memungkinkan ya terpaksa kita ambil jalan militer...untuk NKRI kami siap mati..

    BalasHapus
  5. Tidak ada takut nya...belum pernah militer china..bisa membebaskan tawanan...ngapain takut...kalau belum dicoba ...jngn menyrah..

    BalasHapus
  6. Bener ...blm dicoba belum tahu bagaimana kekuatan Indonesia...kita jgn down dg Jumlah..krn klo emang mereka ( china ) mau dg kekuatan militer mereka yg besar sdh sejak lama mgkin Natuna direbut....krn pasti ada pertimbangan mereka kenapa g berani smpe skrg sm Indonesia....ini merupakan gertak Sambal dari mereka..klo Kita down..yaa terpaksa kita harus ikhlas Natuna mereka Kuasai...Aku Yakin Mereka Takut sm kita krn wlpun Militer kita sedikit mereka masih menganggap Misteri dg kekuatan militer mereka...Bravo TNI INDONESIA

    BalasHapus
  7. penjajah iya tetep penjajah...ingat waktu jaman nya sukarno kita bisa merdeka dg modal bambu runcing dan apa bila penjajah ingin mengulang lagi indonesia tidak akan tinggal diam ingat allah selalu bersam hamba"nya yg selalu berdoa dan berikhtiar dg nya...insaallah allah tak kan tinggal diam apa bila itu akan terjadi aamiin

    BalasHapus
  8. Mending perang aja sama china,indonesia udah g di hargain sama sekali.

    BalasHapus
  9. mungkin jika perang di laut merek menang di udara cina juga pasti menang tapi klo di darat jangan pernah mimpi BISA MENANG, yg tidak cinta agama pun akan mengucakpkan TAKBIR untuk melawan

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel