Sejarah Datangnya Islam di Indonesia - media-umat

Breaking

Menyuarakan berita dengan fakta

Postingan Terbaru

Senin, 17 Juni 2019

Sejarah Datangnya Islam di Indonesia


Ada tiga teori sebenarnya mengenai bagaimana masuknya agama Islam ke wilayah Indonesia yakni Teori Gujarat, Teori Persia, dan Teori Makkah. Ketiga teori itu, telah saling mengemukakan mengenai perspektif kapan masuknya agama Islam, penyebar, asal negara, atau pembawa Islam ke wilayah Indonesia.

Selain itu ketiga teori ini juga pada nyatanya tidak membicarakan masuknya agama Islam pada tiap-tiap pulau yang ada di Indonesia, melainkan hanya menganalisis tentang masuknya agama Islam ke Sumatera dan Jawa, kedua wilayah ini adalah sampel untuk wilayah Indonesia yang lainnya.

Dengan kata lain, jika masuknya agama Islam ke pulau itu akan sangat menentukan perkembangan Islam ke pulau-pulau yang lainnya. Penulis kali ini hanya akan membahas mengenai teori gujarat, berikut adalah penjelasannya.

Teori Gujarat telah mengemukakan jika proses kedatangan agama Islam ke wilayah Indonesia berasal dari Gujarat, di abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat ini juga sebenarnya terletak di wilayah India bagian barat, yang sangat dekat sekali dengan Laut Arab.

Tokoh yang kemudian menyosialisasikan teori ini kebanyakan merupakan sarjana dari Belanda. Sarjana yang pertama yaitu mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel yang berasal dari Universitas Leiden pada abad ke-19. Menurutnya, orang Arab bermazhab Syafei telah melakukan pemukiman di Gujarat dan Malabar sejak di awal Hijriyyah atau sekitaran abad ke7 Masehi, tapi sebenarnya yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel adalah bukan berasal dari orang Arab langsung, melainkan berasal dari pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan kemudian berdagang ke dunia timur, termasuk wilayah Indonesia.

Setelah itu pada perkembangannya maka teori Pijnapel ini diamini dan disebarkan oleh seorang orientalis terkemuka Belanda, Snouck Hurgronje. Ia mengatakan jika agama Islam telah lebih dulu berkembang di kota pelabuhan di Anak Benua India.

Sedangkan orang Gujarat telah paling awal membuka hubungan dagang di Indonesia dibanding degnan para pedagang yang berasal dari Arab. Selain itu dalam pandangan Hurgronje, kedatangan orang Arab terjadi di masa-masa yang berikutnya. Orang Arab sendiri yang telah datang ini kebanyakan adalah keturunan Nabi Muhammad, yang telah menggunakan sebuah gelar “sayid” atau “syarif” di depan nama.

Setelah itu teori Gujarat mulai dikembangkan juga oleh J.P. Moquetta (1912) yang memberi argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang telah wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di wilayah pasai, Aceh. Menurutnya terdapat batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang telah wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, mempunyai bentuk yang mirip atau sama dengan nisan yang ada pada Kambay, Gujarat.

Moquetta sendiri pada akhirnya berkesimpulan jika batu nisan itu telah berhasil diimpor dari Gujarat, atau setidaknya telah dibuat oleh orang Gujarat maupun orang Indonesia yang sudah belajar mengenai kaligrafi khas Gujarat. Alasan yang lainnya ialah kesamaan mazhab Syafi’i yang telah di anut oleh masyarakat muslim yang ada di Gujarat dan Indonesia.

Pada perkembangannya, teori Gujarat ini banyak sekali dibantah oleh ahli. Bukti-bukti yang paling akurat seperti halnya adalah berita dari Arab, Persia, Turki, dan Indonesia memperkuat keterangan-keterangan jika Islam masuk di Indonesia bukan hanya dibawa pedagang Gujarat.

Adapun memang sejarawan dari Azyumardi Azra menjelaskan jika Gujarat dan kota-kota di anak benua India hanya ada di tempat persinggahan bagi pedagang Arab sebelum ia dapat melanjutkan perjalanan sampai ke Asia Tenggara dan Asia Timur. Di samping itu, pada abad XII-XIII Masehi wilayah Gujarat sudah banyak sekali dikuasai pengaruh Hindu yang teramat kuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar