Bolehkah laki-laki memandang perempuan dan sebaliknya? - media-umat

Breaking

Menyuarakan berita dengan fakta

Postingan Terbaru

Senin, 17 Juni 2019

Bolehkah laki-laki memandang perempuan dan sebaliknya?


Allah telah menciptakan seluruh makhluk hidup dapat hidup berpasang-pasangan, bahkan sudah menciptakan alam semesta ini juga dengan cara berpasang-pasangan. Sebagaimana firman-Nya: "Maha Suci Allah yang telah menciptakan semuanya pasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi ataupun dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS Yasin: 36)

"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah SWT." (QS Adz-Dzaariyat: 49) Nah tentunya berdasarkan dari sunnah kauniyah (atau ketetapan Allah) yang umum ini, maka manusia diciptakan secara berpasang-pasangan, terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan, sehingga nantinya kehidupan manusia bisa berlangsung dan berkembang. Begitu juga dengan dijadikan daya tarik antara satu jenis dengan jenis atau lawan jenis yang lainnya, sebagai fitrah Allah kepada manusia sekalian.

Setelah Allah menciptakan Adam, Allah juga telah menciptakan (dari dan untuk Adam) seorang istri agar ia merasa tenang untuk dapat hidup dengannya, begitu pula si istri nantinya akan merasa tenang hidup bersamanya. Mengapa? Karena secara hukum fitrah, tidak mungkin ia (Adam) dapat merasa bahagia jika ia hanya seorang diri, walaupun bisa dikatakan jika dalamsurga ia dapat makan minum sesukanya.

Hakikat yang lain dan wajib diingat di sini adalah berkenaan dengan kebutuhan timbal balik di antara laki-laki dan juga perempuan jika Allah SWT telah menanamkan di dalam fitrah masing-masing dari kedua jenis manusia ini akan perasaan ketertarikan terhadap lawan jenisnya dan juga terdapat kecenderungan syahwati yang instinktif. Nah dengan adanya fitrah ketertarikan ini maka terjadilah pertemuan (perkawinan) dan reproduksi, sehingga mampu untuk terpeliharalah kelangsungan hidup manusia dan planet bumi.

Firman Allah: "Janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak dari padanya" (QS An-Nur: 31 ). Berdasarkan jumhur ulama, perhiasan yang biasanya akan tampak itu adalah wajah dan telapak tangan.

Timbul pertanyaan apabila wanita boleh menampakkan bagian tubuh ini yaitu muka dan tangan/kakinya, maka bolehkah para lelaki untuk melihat kepadanya atau sebaliknya?, Pandangan yang paling pertama (atau bisa dikatakan secara tiba-tiba) adalah tidak dapat dihindari sehingga bisa dihukumi sebagai darurat. Adapun memang pada pandangan berikutnya (yaitu pandangan yang kedua) diperselisihkan hukumnya oleh para ulama.

Nah yang dilarang dan tidak ada keraguan lagi adalah dengan anda melihat dengan menikmati (taladzdzudz) dan bersyahwat, karena ini adalah sebuah pintu bahaya dan penyulut api. Adapun dengan anda melihat perhiasan (bagian tubuh) yang tidak terbiasa nampak, seperti halnya leher, rambut, punggung, lengan (bahu), betis, dan lain sebagainya, tidak diperbolehkan selain mahram, dan berdasarkan ijma. Maka terdapat dua kaidah yang menjadi bahan acuan masalah ini beserta masalah-masalah yang berhubungan juga dengannya.

Pertama, adalah jika sesuatu yang dilarang itu maka akan diperbolehkan ketika darurat atau memang pada kondisi membutuhkan, seperti halnya kebutuhan berobat, melahirkan, dan lain sebagainya. Demikian juga pembuktian-pembuktian akan tindak pidana, dan yang lainnya yang sangat diperlukan dan menjadi sebuah keharusan, baik untuk perseorangan ataupun masyarakat.

Yang kedua, adalah jika apa yang diperbolehkan tersebut nantinya akan menjadi terlarang jika dikhawatirkan terjadinya beragam fitnah, baik dari kekhawatiran itu terhadap laki-laki ataupun dari perempuan. Dan hal tersebut juga apabila ada petunjuk yang jelas, tidak sekadar hanya sebatas perasaan dan khayalan sebagian orang yang takut dan ragu terhadap setiap orang dan setiap persoalan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar